Suasana haru dan penuh kebahagiaan menyelimuti jamaah haji Kloter UPG 17 di Masjid Nabawi, Madinah. Sebanyak 70 jamaah lansia wanita akhirnya berhasil memasuki Raudhah, tempat istimewa yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai taman dari taman-taman surga.
Bagi sebagian besar jamaah lansia tersebut, momen ini menjadi pengalaman spiritual yang sangat dinantikan selama hidup mereka.
Tangis haru terlihat di wajah beberapa jamaah ketika akhirnya berhasil menginjakkan kaki di area Raudhah setelah melalui antrean panjang dan pengawalan ketat petugas.
Di antara rombongan jamaah lansia itu, hadir sosok inspiratif bernama Ibu Ripa Saidi yang telah berusia 90 tahun. Meski berada di usia senja, semangatnya untuk beribadah di Raudhah tetap begitu kuat.
Ia didampingi oleh Ibu Sitti Labbiri selama menjalani proses menuju area Raudhah.
Keteguhan keduanya menjadi gambaran nyata tentang besarnya kerinduan jamaah lanjut usia kepada Rasulullah ﷺ dan keinginan mendalam untuk beribadah di tempat yang mulia tersebut.
Raudhah sendiri merupakan area yang berada di antara rumah Rasulullah ﷺ dan mimbar beliau di Masjid Nabawi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة
“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena keutamaannya itu, jutaan jamaah dari seluruh dunia berlomba mendapatkan kesempatan masuk ke Raudhah setiap musim haji maupun umrah.
Namun bagi jamaah lansia, perjalanan menuju Raudhah bukanlah hal mudah.
Selain harus menghadapi padatnya jamaah internasional, mereka juga harus menyesuaikan kondisi fisik di tengah cuaca panas dan aktivitas yang cukup menguras tenaga.
Karena itu, keberhasilan masuknya 70 jamaah lansia wanita Kloter UPG 17 menjadi momen yang sangat disyukuri oleh jamaah maupun petugas.
Pengawalan Ketat Petugas Kloter
Keberhasilan agenda tersebut tidak lepas dari sinergi dan pengawalan intensif para petugas kloter yang sejak awal berupaya memastikan jamaah lansia tetap aman dan nyaman.
Pengawalan dipimpin langsung oleh Ketua Kloter UPG 17, M. Hairil, bersama Pembimbing Ibadah, Ustadz Faried Wajedi.
Turut mendampingi tim kesehatan kloter yang terdiri dari:
dr. Radhi Ijtihadi
Ns. Wanda Mursidin, M.Kep
Ns. Diana Alhan, S.Kep selaku PHD kesehatan
Para petugas terlihat aktif membantu jamaah sejak proses antrean hingga masuk ke area Raudhah.
Beberapa petugas bahkan berupaya memenuhi kebutuhan kursi roda bagi jamaah lansia dengan meminjam kursi roda di pos khusus peminjaman kursi roda Masjid Nabawi.
Langkah tersebut dilakukan agar jamaah lansia yang mengalami keterbatasan fisik tetap dapat memperoleh kesempatan beribadah di Raudhah.
Di tengah keramaian jamaah internasional, petugas harus memastikan rombongan tetap terkoordinasi agar tidak terpisah satu sama lain.
Situasi itu menjadi tantangan tersendiri karena sebagian jamaah lansia baru pertama kali datang ke Madinah dan belum memahami jalur masuk menuju Raudhah.
Tangis Jamaah Saat Masuk Raudhah
Suasana emosional begitu terasa ketika jamaah mulai memasuki area Raudhah.
Beberapa jamaah tampak menangis sambil berdoa, sementara lainnya terlihat terdiam memandangi area yang selama ini hanya mereka lihat melalui televisi dan cerita para ustadz.
Ada jamaah yang langsung melaksanakan salat sunnah, ada pula yang memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an.
Tak sedikit jamaah lansia yang mengaku tidak pernah membayangkan dapat sampai di tempat tersebut di usia yang sudah lanjut.
Sejumlah jamaah terlihat memeluk sesama rombongan sambil menahan air mata setelah berhasil keluar dari area Raudhah.
Bagi mereka, kesempatan masuk ke Raudhah bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan spiritual yang penuh makna dan perjuangan.
Perjuangan Lansia Menuju Taman Surga
Perjalanan jamaah lansia menuju Raudhah memang membutuhkan kesiapan dan perhatian khusus.
Jamaah harus berjalan cukup jauh menuju pintu antrean, menunggu giliran masuk, hingga mengikuti alur petugas Masjid Nabawi yang sangat ketat dalam pengaturan jamaah.
Karena itu, peran petugas kloter menjadi sangat penting untuk membantu jamaah tetap tenang dan aman selama proses berlangsung.
Tim kesehatan juga terus memantau kondisi fisik jamaah agar tidak mengalami kelelahan berlebihan.
Dokter Kloter UPG 17, dr. Radhi Ijtihadi, mengatakan bahwa jamaah lansia membutuhkan pengawasan khusus karena kondisi fisik mereka berbeda dengan jamaah usia muda.
“Kami berupaya memastikan jamaah lansia tetap aman dan tidak kelelahan. Kondisi kesehatan mereka terus dipantau selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.
Sementara itu, para petugas kesehatan juga mengingatkan jamaah untuk tetap cukup minum dan tidak memaksakan diri selama berada di area Masjid Nabawi.
Momen yang Dinanti Seumur Hidup
Bagi banyak jamaah, Raudhah merupakan salah satu tujuan utama ketika berada di Madinah.
Tak heran jika banyak jamaah rela menunggu jadwal permit Nusuk dan mengantre sejak dini hari demi mendapatkan kesempatan masuk.
Bagi jamaah lansia Kloter UPG 17, momen tersebut terasa semakin emosional karena sebagian besar baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Ada yang telah menabung puluhan tahun, ada pula yang menunggu antrean haji selama belasan hingga puluhan tahun sebelum akhirnya tiba di Madinah.
Kini, kerinduan panjang itu terbayar ketika mereka akhirnya bisa bersujud dan berdoa di Raudhah.
Pelayanan Petugas Jadi Kunci
Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kerja sama antara petugas kloter, pembimbing ibadah, dan tim kesehatan dalam melayani jamaah lansia.
Mulai dari pengurusan permit Nusuk, pengaturan rombongan, penyediaan kursi roda, hingga pemantauan kesehatan dilakukan secara bersama-sama demi memastikan jamaah dapat menjalankan ibadah dengan nyaman.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pelayanan haji bukan hanya soal administrasi dan perjalanan, tetapi juga tentang pengabdian dan kesabaran mendampingi para tamu Allah.
Harapan Menjadi Haji Mabrur
Usai kegiatan berlangsung, para jamaah dan petugas berharap seluruh jamaah Kloter UPG 17 senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalani rangkaian ibadah berikutnya.
Puncak ibadah haji sendiri masih akan berlangsung di Arafah, Muzdalifah, dan Mina dalam beberapa pekan mendatang.
Doa pun terus dipanjatkan agar seluruh jamaah dapat menyelesaikan ibadah dengan lancar dan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat.
“Semoga seluruh jamaah menjadi haji yang mabrur,” ucap salah seorang jamaah usai keluar dari Raudhah.
Di tengah keramaian Masjid Nabawi malam itu, wajah-wajah lansia Kloter UPG 17 tampak memancarkan kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Perjalanan panjang, antrean bertahun-tahun, dan segala keterbatasan fisik seolah terbayar lunas ketika mereka akhirnya bisa bersimpuh di taman surga.
Jejak Haji