Menjadi petugas haji bukanlah perkara mudah. Di balik penugasan tersebut, terdapat proses seleksi yang ketat dengan banyak pesaing yang memperebutkan satu posisi. Bagi Andi Fadli, Petugas Haji Daerah (PHD) layanan umum Kloter UPG 17, kesempatan ini bukan sekadar tugas, melainkan bagian dari ibadah.
“Menjadi petugas haji itu melalui seleksi ketat. Makna bagi saya adalah ibadah, menjadi pelayan tamu-tamu Allah,” ungkapnya.
Ia menyadari bahwa kesempatan berhaji bagi banyak orang mungkin hanya datang sekali seumur hidup. Karena itu, ia memandang perannya sebagai petugas haji sebagai peluang untuk turut mengambil bagian dalam melayani para tamu Allah dengan sebaik-baiknya.
“Saya berharap mendapatkan pahala dari pelayanan itu. Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah,” tambahnya.
Dalam kloter, Andi Fadli memiliki peran yang cukup luas. Ia tidak hanya mendampingi jamaah secara umum, tetapi juga memberikan dukungan terhadap tugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) kloter.
Tugas tersebut mencakup berbagai aspek pelayanan, mulai dari proses keberangkatan di embarkasi, pendampingan di bandara, perjalanan di pesawat, hingga pelayanan saat tiba di Arab Saudi. Peran itu berlanjut di hotel, selama pelaksanaan ibadah di Madinah dan Mekkah, hingga puncak ibadah haji dan kepulangan ke tanah air.
“Di lapangan, tugas bisa berkembang lebih luas. Sejak embarkasi, di pesawat, hingga di hotel dan puncak ibadah haji, semuanya membutuhkan komitmen dan tanggung jawab,” jelasnya.
Namun, tantangan terbesar yang ia antisipasi adalah perbedaan kondisi cuaca antara Indonesia dan Arab Saudi. Suhu yang diperkirakan mencapai 40 hingga 45 derajat Celsius menjadi perhatian utama.
“Perbedaan suhu ini cukup ekstrem bagi kita. Karena itu, diperlukan persiapan khusus agar bisa beradaptasi dengan kondisi di sana,” ujarnya.
Kepada para jamaah, Andi Fadli menyampaikan tiga pesan penting yang menurutnya menjadi kunci dalam menjalankan ibadah haji.
Pertama, menjaga niat. Ia mengingatkan bahwa perjalanan haji membutuhkan pengorbanan besar, baik dari segi harta, tenaga, maupun waktu.
“Kita sudah mengorbankan banyak hal, maka jagalah niat agar tetap ikhlas karena Allah. Jangan ada riya atau sum’ah dalam ibadah,” pesannya.
Kedua, menjaga kesehatan. Ia menekankan pentingnya kondisi fisik yang prima sejak masa persiapan hingga kepulangan.
“Semoga kita semua bisa berangkat dan kembali dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apa pun,” katanya.
Ketiga, menjaga kekompakan. Ia mengajak jamaah untuk saling mendukung dan mengikuti arahan ketua kloter sebagai pemimpin dalam perjalanan ibadah.
“Patuhi arahan ketua kloter, karena beliau adalah pemimpin kita dalam safar ibadah haji ini,” tambahnya.
Sebagai petugas yang baru pertama kali bertugas, Andi Fadli mengaku telah melalui proses seleksi selama dua tahun hingga akhirnya mendapatkan kesempatan pada tahun 2026 ini.
Meski belum memiliki pengalaman langsung sebagai petugas haji sebelumnya, ia memiliki pengalaman mendampingi jamaah saat perjalanan umrah, termasuk dalam membantu jamaah lansia sejak keberangkatan hingga kepulangan.
“Pengalaman umrah itu menjadi bekal, terutama dalam mendampingi jamaah, termasuk yang lansia,” tuturnya.
Dengan niat yang tulus, ia berharap dapat menjalankan tugas dengan baik selama di Tanah Suci.
“Semoga Allah menjaga niat saya dalam bertugas, memberikan kelapangan hati untuk melayani tamu-tamu Allah, dan diberikan kesehatan agar tetap prima,” harapnya.
Bagi Andi Fadli, menjadi petugas haji bukan sekadar menjalankan tugas operasional, tetapi juga perjalanan ibadah yang penuh makna—melayani, membantu, dan mengabdikan diri untuk para tamu Allah di Tanah Suci.
Jejak Haji