Di tengah suasana persiapan keberangkatan jamaah haji Kloter UPG 17 di Asrama Haji, perhatian terhadap kesiapan fisik menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan oleh Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan, H. Asa Afif.
Menurutnya, ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga ibadah yang menuntut kesiapan fisik dalam durasi yang panjang.
“Ibadah haji adalah ibadah fisik, dan pelaksanaannya berlangsung cukup lama, sekitar 40 hari. Karena itu, jamaah harus pandai mengatur tenaga,” ujarnya.
Ia mengingatkan khususnya bagi jamaah yang berangkat pada gelombang pertama agar tidak terlalu memaksakan diri dalam menjalankan ibadah sunah selama berada di Madinah.
“Di Madinah itu ibadahnya lebih banyak bersifat sunah. Jangan sampai terlalu memforsir tenaga untuk mengejar sunah, sehingga nanti kelelahan saat memasuki puncak haji di Makkah,” jelasnya.
Menurut Asa Afif, kondisi fisik yang prima menjadi kunci utama dalam menghadapi puncak ibadah haji, terutama saat wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah.
“Tenaga harus diatur dengan baik, agar saat puncak haji, jamaah dalam kondisi siap secara fisik,” tambahnya.
Selain kesiapan fisik, ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan yang berlaku, baik dari pemerintah Indonesia maupun pemerintah Arab Saudi.
“Jamaah harus patuh terhadap aturan yang sudah ditetapkan. Di Arab Saudi, ada berbagai larangan yang harus dipatuhi, seperti tidak membawa atribut tertentu dan tidak merokok sembarangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan jamaah agar lebih waspada terhadap potensi kejahatan, khususnya penipuan digital yang kini marak terjadi.
Menurutnya, terdapat oknum yang memanfaatkan momen haji untuk melakukan penipuan melalui pesan atau tautan yang dikirim ke telepon seluler jamaah.
“Kalau ada link atau aplikasi yang masuk dari sumber yang tidak jelas, jangan langsung dibuka. Sudah ada kejadian, HP jamaah di-hack, bahkan sampai rekeningnya terkuras,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam beberapa kasus, pelaku bahkan menghubungi keluarga jamaah untuk meminta sejumlah uang dengan memanfaatkan data yang telah diambil.
“Ini harus menjadi perhatian serius. Jamaah harus lebih berhati-hati,” pesannya.
Dengan berbagai tantangan yang ada, Asa Afif berharap seluruh jamaah dapat menjalankan ibadah dengan bijak, menjaga kesehatan, serta tetap fokus pada tujuan utama menunaikan ibadah haji.
Suasana di Asrama Haji pun menjadi momentum penting bagi jamaah untuk mempersiapkan diri, tidak hanya secara administratif, tetapi juga secara fisik dan mental sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Jejak Haji