Bagi Faried Wajedi, menjadi petugas haji bukan sekadar menjalankan tugas formal, tetapi sebuah amanah besar yang sarat makna spiritual. Ia menyadari bahwa tanggung jawab yang diembannya bukan hanya berasal dari negara, tetapi juga dari Allah SWT untuk melayani para tamu-Nya di Tanah Suci.
“Bagi saya, makna menjadi petugas haji adalah sebuah amanah besar, tugas dari negara sekaligus dari Allah SWT untuk melayani para tamu-tamu-Nya,” ungkapnya.
Pada musim haji tahun ini, Faried Wajedi bertugas sebagai pembimbing ibadah (bimbad) yang mendampingi jamaah Kloter UPG 17. Perannya sangat vital dalam memastikan jamaah dapat menjalankan setiap rangkaian ibadah sesuai tuntunan, mulai dari manasik hingga pelaksanaan di Tanah Suci.
Namun di balik peran tersebut, ia menyadari bahwa tugas ini tidaklah ringan. Tantangan terbesar yang ia hadapi bukan hanya pada teknis ibadah, tetapi juga pada kesiapan fisik dan mental.
“Tantangan yang paling saya antisipasi adalah rasa capek. Petugas itu tidak mengenal istilah capek, tidak ada kata istirahat. Kapan jamaah butuh, kita tidak boleh merasa capek,” ujarnya.
Meski demikian, ia memandang hal tersebut sebagai bagian dari konsekuensi tugas mulia yang harus dijalani dengan penuh keikhlasan.
Kepada para jamaah, Faried Wajedi berpesan agar senantiasa menjaga kebersamaan dan meluruskan niat selama menjalankan ibadah haji.
“Mari kita menjaga kekompakan, menjaga niat kita selama beribadah di Tanah Suci. Jangan sampai tergoda dengan niat-niat lain, karena di sana banyak godaan,” pesannya.
Ia juga berharap seluruh jamaah dapat menjalankan ibadah dengan baik, menjaga kebersamaan, dan kembali ke tanah air dengan hasil terbaik.
“Harapan saya, jamaah tetap menjaga kekompakan dan niat bahwa kita ke sana untuk beribadah,” tambahnya.
Pengalaman Faried Wajedi sebagai petugas haji bukanlah yang pertama. Ia tercatat telah tiga kali mengemban amanah tersebut, yakni pada tahun 2010, 2018, dan 2026. Selain itu, ia juga pernah menunaikan ibadah haji sebagai jamaah pada tahun 1994, 1995, dan 2015. Berangkat dari pengalaman panjang tersebut, ia merasakan betapa besar nilai pengabdian dalam tugas melayani jamaah di Tanah Suci.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika seluruh rangkaian ibadah telah selesai dan jamaah kembali ke tanah air.
“Pengalaman paling berkesan itu ketika pulang, setelah semua rukun dan wajib haji dilaksanakan. Saat tiba di Debarkasi Makassar, ada kepuasan tersendiri karena telah berusaha maksimal menunaikan tugas dan rukun Islam. Semoga mendapat haji mabrur,” tuturnya.
Bagi Faried Wajedi, menjadi pembimbing ibadah bukan hanya soal mendampingi jamaah, tetapi juga bagian dari perjalanan spiritual yang penuh makna—melayani, menguatkan, dan mengantarkan jamaah menuju ibadah yang khusyuk dan mabrur.
Baca Juga :
Mengenal 8 Petugas Kloter UPG 17 yang Siap Melayani Jamaah di Tanah Suci
Jejak Haji