Jamaah UPG 17 Ikuti Manasik Pemantapan Umrah Tamattu Jelang Pendorongan ke Makkah

Jamaah UPG 17 Ikuti Manasik Pemantapan Umrah Tamattu Jelang Pendorongan ke Makkah

Menjelang pendorongan jamaah menuju Makkah untuk melaksanakan umrah wajib dalam rangkaian haji tamattu, jamaah Kloter UPG 17 mengikuti kegiatan manasik pemantapan di Hotel Plaza Inn Ohud, Madinah, Sabtu malam (9/5/2026) usai salat Isya.

Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Petugas Haji Daerah (PHD) layanan umum, Andi Fadli, bersama mahasiswa S2 Universitas Islam Madinah, Ustadz Hanif Nur, yang hadir sebagai pemateri dan pembimbing manasik.

Suasana kegiatan berlangsung khidmat dan interaktif. Jamaah tampak memenuhi aula hotel sambil membawa buku catatan dan perlengkapan manasik untuk memahami lebih detail tahapan ibadah yang akan mereka jalani saat tiba di Makkah.

Bagi sebagian jamaah, khususnya yang baru pertama kali berhaji, kegiatan ini menjadi sangat penting karena umrah tamattu merupakan awal dari rangkaian panjang ibadah haji.

Dalam pemaparannya, Ustadz Hanif Nur menjelaskan bahwa manasik bukan hanya sekadar teori, tetapi bagian dari upaya menjaga kesempurnaan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Persiapan Ihram Dimulai dari Bir Ali

Penjelasan manasik dimulai sejak jamaah diberangkatkan dari hotel menuju Bir Ali atau Dzul Hulaifah, miqat bagi jamaah Madinah sebelum masuk ke Makkah.

Di lokasi miqat tersebut, jamaah dianjurkan melakukan beberapa sunnah sebelum berniat ihram.

“Yang dilakukan di Bir Ali adalah mandi, memotong kuku, mencabut rambut yang diperintahkan dicabut, memakai kain ihram, kemudian berniat umrah tamattu,” jelas Ustadz Hanif di hadapan jamaah.

Setelah berniat ihram, jamaah mulai bertalbiyah sepanjang perjalanan menuju Makkah hingga melihat Ka’bah.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Talbiyah tersebut menjadi simbol panggilan dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah SWT dalam memenuhi undangan ibadah haji.

Penjelasan Lengkap Tata Cara Tawaf

Setelah tiba di Masjidil Haram, jamaah akan memulai ibadah umrah dengan melaksanakan tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dimulai dari Hajar Aswad.

Dalam sesi manasik, Ustadz Hanif menjelaskan tiga perlakuan yang disunnahkan saat berada di Hajar Aswad.

Pertama, mencium langsung Hajar Aswad apabila memungkinkan dan tidak membahayakan jamaah lain.

Kedua, jika tidak memungkinkan, jamaah dapat mengusap Hajar Aswad menggunakan tangan atau tongkat, lalu mencium tangan atau tongkat tersebut.

Ketiga, apabila tidak mampu mendekat, maka cukup melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad tanpa perlu mencium tangan.

“Banyak jamaah yang salah memahami ini. Kalau hanya melambaikan tangan, tidak perlu mencium tangan,” jelasnya.

Saat memulai tawaf, jamaah dianjurkan membaca:

بِسْمِ اللهِ، اللهُ أَكْبَرُ

Bismillah, Allahu Akbar.

Jamaah kemudian melakukan tawaf tujuh putaran mengelilingi Ka’bah dengan tetap menjaga ketertiban dan tidak saling mendorong.

Salat di Belakang Maqam Ibrahim dan Minum Zamzam

Setelah menyelesaikan tawaf, jamaah disunnahkan melaksanakan salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim apabila memungkinkan.

Pada rakaat pertama dianjurkan membaca Surah Al-Kafirun, sedangkan rakaat kedua membaca Surah Al-Ikhlas.

Selanjutnya jamaah menuju area air zamzam.

Ustadz Hanif menjelaskan bahwa minum zamzam memiliki adab tersendiri, yaitu diminum sambil berdiri menghadap kiblat dan dianjurkan berdoa sebelum meminumnya.

“Air zamzam adalah air penuh keberkahan, maka manfaatkan dengan doa-doa terbaik,” ujarnya.

Sai dari Safa ke Marwah

Rangkaian umrah kemudian dilanjutkan dengan sai antara Bukit Safa dan Marwah.

Dalam penjelasannya, Ustadz Hanif menerangkan bahwa setiap berada di atas Bukit Safa maupun Marwah, jamaah disunnahkan menghadap kiblat dan memperbanyak doa karena tempat tersebut termasuk lokasi mustajab.

Perhitungan sai dimulai:

Safa ke Marwah = hitungan pertama

Marwah ke Safa = hitungan kedua

Hingga tujuh putaran dan berakhir di Bukit Marwah.

Suasana aula tampak semakin serius ketika jamaah mulai mencatat detail-detail penting terkait urutan ibadah.

Tahallul Menandai Selesainya Umrah

Setelah sai selesai, jamaah kemudian melakukan tahallul dengan mencukur atau memotong rambut sebagai tanda selesainya umrah wajib tamattu.

Dengan tahallul tersebut, jamaah kembali diperbolehkan melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang selama ihram.

Meluruskan Kesalahan Pemahaman Fiqih Jamaah

Selain menjelaskan tata cara umrah, Ustadz Hanif juga meluruskan beberapa kesalahan pemahaman fiqih yang sering terjadi di kalangan jamaah.

Salah satu yang paling sering ditemui adalah praktik idtiba atau membuka bahu kanan sejak dari hotel.

Padahal, menurutnya, idtiba hanya disunnahkan ketika tawaf saja.

“Sebagian jamaah memakai idtiba sejak dari hotel atau bus. Padahal sunnahnya hanya saat tawaf,” jelasnya.

Kesalahan lain adalah kebiasaan jamaah melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad lalu mencium tangan tersebut.

“Kalau hanya melambaikan tangan, tidak perlu mencium tangan. Yang dicium itu jika benar-benar mengusap Hajar Aswad menggunakan tangan atau tongkat,” katanya.

Ia juga menjelaskan kesalahan lain terkait Rukun Yamani.

Menurutnya, sunnah di Rukun Yamani adalah mengusapnya apabila mampu. Jika tidak bisa menjangkaunya, maka cukup dilewati tanpa isyarat tangan.

“Tidak ada sunnah melambaikan tangan ke Rukun Yamani,” ujarnya.

Selain itu, Ustadz Hanif juga meluruskan anggapan sebagian jamaah yang meyakini orang berihram tidak boleh mandi.

“Orang yang ihram tetap boleh mandi. Yang dilarang itu memakai wewangian setelah ihram,” terangnya.

Jamaah Antusias Bertanya

Selama kegiatan berlangsung, jamaah tampak sangat aktif bertanya terkait berbagai persoalan fiqih yang belum sepenuhnya dipahami.

Beberapa jamaah mengangkat tangan untuk menanyakan persoalan:

penggunaan sandal saat ihram,

hukum memakai masker,

tata cara tawaf bagi lansia,

hingga kondisi tertentu saat sai.

Sesi tanya jawab berlangsung cukup panjang dan menjadi bagian yang paling antusias diikuti jamaah.

Banyak jamaah mengaku lebih tenang setelah mendapatkan penjelasan langsung terkait praktik ibadah yang akan mereka jalani di Masjidil Haram.

Pembinaan Jamaah Sebelum Puncak Ibadah

Kegiatan manasik pemantapan ini menjadi bagian penting dari pembinaan jamaah sebelum memasuki fase pelaksanaan ibadah di Makkah.

PHD Andi Fadli mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membantu jamaah agar lebih siap secara ilmu dan mental sebelum melaksanakan umrah wajib.

“Kami berharap jamaah lebih siap dan tenang ketika masuk Masjidil Haram nanti karena sudah memahami tata cara ibadahnya,” ujarnya.

Menurutnya, pemahaman yang baik akan membantu jamaah beribadah dengan lebih khusyuk dan tidak mudah panik di tengah kepadatan jamaah internasional.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara jamaah, petugas kloter, dan pemateri manasik.

Wajah-wajah jamaah tampak penuh semangat menyambut perjalanan menuju Makkah, kota suci yang selama ini hanya mereka lihat melalui televisi dan buku-buku manasik.

Kini, mereka bersiap menapaki langsung jejak ibadah para nabi di Tanah Haram.

Advertisement

Andi Fadli

Andi Fadli, S. Kom., M. Tr. AP

Petugas Haji Daerah Sulawesi Selatan 2026 (UPG 17). Berbagi pengalaman dan panduan langsung dari lapangan di bagian Layanan Umum.